• jobs in sales , sales jobs
  • Terbaru

  • Pilih Topik

  • Advertisements

We are Never Too Old to Learn

eramuslim – Seseorang menambahkan id saya dalam friendster-nya. Sejenak saya mengernyitkan kening membaca nama yang tertera di sana. Selintas, rasanya saya familiar dengan nama itu. Dengan sedikit penasaran, saya klik ikon yang terpampang untuk melihat profilnya. Aha, ternyata! Dia adik angkatan dari kampus saya. Membaca cv-nya, saya langsung mengambil kesimpulan: satu lagi well rounded man -sosok serba tahu dan serba bisa- saya temukan. Usia 25 tahun, pernah menduduki jabatan strategis di berbagai organisasi kampus, memiliki prestasi akademik memuaskan, cukup ahli dalam bidang pekerjaannya di kantor, memiliki usaha sendiri, aktif dalam jamaah dakwah, aktif juga di lembaga pengembangan manajemen dan kini kuliah lagi. Dan, telah menikah pula. Menilik hobi dan penilaian terhadap diri sendiri yang ia sebut di sana, saya juga menebak bahwa si adik kelas ini adalah seseorang yang visioner dan idealis. Perfect!

Adik kelas tersebut, menambah lagi jumlah “young well rounded man” di lingkaran hidup saya saat ini. Ya, saat ini saya memiliki cukup banyak kawan baik dengan usia rata-rata 5 tahun atau lebih di bawah saya. Mereka cerdas, memiliki berbagai kemampuan dan pengalaman serta berwawasan luas. Bersama mereka saya ngobrol tentang banyak hal. Berbagi. Saling memberi masukan. Diskusi. Dan mereka nyaris selalu dapat mengimbangi saya. Bahkan saya banyak sekali belajar dari mereka.

Sungguh, saya selalu appreciate terhadap para young well rounded man. Bahkan diam-diam saya iri dengan orang-orang muda yang ahli di bidangnya dan memiliki wawasan -minimal serba sedikit- luas di berbagai jenis keilmuan dan keahlian itu. Kadang saya mengeluh dalam hati, mengeluhkan diri saya sendiri: Lihat! Mereka, para pemuda dan pemudi berusia di bawah dua puluh lima tahun itu telah mengerti jauh lebih banyak darimu! Lihat! Para pemuda itu memiliki wawasan yang jauh lebih luas dibanding kamu! Lihat, mereka memiliki visi dan orientasi hidup matang dalam usia mereka yang masih sangat muda! Mereka sudah mulai merintis bisnis dan karirnya, juga keluarga, sejak usia dini. Sedang kamu? Hai, ke mana saja kamu selama ini? Apa saja yang telah kamu lakukan dalam hidupmu? Bisa apa kamu saat seusia mereka? Apa saja yang kamu mengerti dan telah kamu jalani saat berusia belasan dan dua puluhan? Prinsip apa yang telah kamu pegang dengan kokoh saat usia awal dua puluhan? Saya tersenyum sendiri. Getir!

Tidak! Bukan saya tidak melakukan apa-apa pada penggal-penggal usia itu. Saya melakukan banyak hal, tidak berdiam diri. Mencoba mengukir prestasi hidup. Hanya saja harus saya akui, saya membutuhkan waktu lebih lama untuk ‘sekedar’ mencari identitas diri. Dengan jujur harus saya katakan, saya mengalami banyak pergulatan batin yang lebih panjang dalam menentukan pilihan. Tentu saja, semua berkaitan dengan masa lalu, masa kecil dan gaya pendidikan yang pernah saya jalani. Tidak dapat dinafikan juga adalah faktor eksternal dan takdir. Semuanya bermuara pada satu realitas: Saat para well rounded man angkatan saya sudah mantap dengan visinya, mulai bergerak meretas jalan menuju cita-cita, saya masih berjibaku dengan diri sendiri. Saya masih trial and error. Saya masih sibuk dengan permasalahan-permasalahan emosi yang menguras habis energi! Dan kini, dalam usia menjelang tiga puluh tahun, teman-teman saya sudah banyak yang S-2, mantap dan prospektif dalam karir, menjalani kehidupan rumah tangga yang mapan dengan 2-3 anak.

Sedang saya? Lagi-lagi saya tersenyum getir. Tapi saya tahu, saya tidak sendirian. Ada banyak orang seperti saya: yang jalan hidupnya tidak lurus-lurus saja. Yang cara berpikirnya tidak langsung tepat, namun lebih banyak meraba-raba. Yang upayanya tertatih-tatih dan berulang kali jatuh bangun. Yang proses ‘mengerti’nya tersendat-sendat. Bahkan, lebih banyak lagi yang diam, stagnan dan menjalani hidup apa adanya. Tanpa ambisi, orientasi apalagi visi. Tanpa usaha untuk menjadi lebih tahu dan lebih baik.

Apakah ini semacam apologi untuk berhenti dan menjalani apa adanya? Bukan! Ini hanya sebuah upaya untuk bersikap adil dan seimbang. Bahwa ada saat kita melihat ke atas, pada orang-orang yang lebih (dalam seluruh maknanya). Dan ada saat kita melihat ke bawah kepada orang-orang yang kurang atau setara dengan kita. Sementara itu, upaya untuk menjadi lebih mengerti dan lebih baik harus tetap dijalankan.

Dan saya pun teringat kembali pada seorang sahabat dari penggal masa lalu. Satu kalimat nasihatnya yang masih saya simpan hingga kini. Kalimat yang dia berikan saat saya merasa demikian stuck, nyaris putus asa dengan jalan hidup saya di usia menjelang dua puluh lima tahun waktu itu: We are never too old to learn. Tidak pernah ada kata terlalu tua untuk belajar. We are never too late to start. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai. Kalimat itu menyemangati saya untuk bangkit dan bergerak kembali. Mengambil berbagai macam kursus, memaksakan diri kuliah lagi, terjun dalam berbagai aktifitas publik dan membangun jaringan dalam lingkup yang lebih luas. Bukan hanya lingkungan kantor dan dakwah jamaah, tapi juga keilmuan lain dan komunitas lain. Kalimat yang sedikit banyak telah saya buktikan, bahwa dalam rentang lima tahun ini, telah banyak pencapaian berarti yang saya dapatkan, meski tidak sesuai dengan impian awal.

Ya! Bahwa, hidup kita (saya dan anda yang merasa tertatih dan tersendat) bergerak pelan, atau bahkan pernah mogok dan salah arah, itu adalah realitas yang mesti disadari dan diterima apa adanya. Namun usaha dan proses tidak pernah mengenal kata berhenti. Namun perjalanan untuk menjadi lebih mengerti, lebih paham, lebih baik, tidak pernah mengenal kata terlambat. Namun belajar tidak pernah mengenal kata terlalu tua. Kita hanya perlu menyadari dan menghujamkan dalam hati: bahwa kita, sampai usia berapa pun, tidak boleh berhenti belajar. Kita, sampai kapan pun, tidak boleh merasa puas dan cukup dengan apa yang telah dicapai. Hidup adalah proses, maka ia hanya akan bermakna dalam arti yang sesungguhnya jika dijalankan tahap-tahapnya. Seperti nasihat Prawoto Mangkusasmito, tokoh politik islam masa orde lama, dalam suratnya kepada anaknya.

“Perjuangan adalah suatu garis, suatu proses, bukan suatu titik. Yang ada ialah garis mendaki, garis menurun, garis mendatar. Pencapaian ialah suatu titik, yang segera akan dilalui, akan lenyap atau tumbuh, tergantung amal pemeliharaannya. Perjuangan adalah usaha penyempurnaan dan pemeliharaan yang tak kunjung putus selama hayat di kandung badan.”

Maka sekali lagi: We are never too old to learn!

(source : eramuslim.com)

Advertisements

Atasi Demam Panggung Anda..!

Berbicara dan tampil di depan publik bukanlah perkara mudah. Banyak yang mendadak terserang panas dingin, grogi, dan gemetar saat ingin melakukannya. Masalah-masalah yang kerap muncul saat berhadapan dengan publik ini biasa disebut ‘demam panggung’. Bahkan pada beberapa orang yang telah pengalaman pun, tampil dan bicara di depan publik masih menjadi peristiwa yang mengerikan.

Padahal, hal ini merupakan masalah penting dan para bos menganggap bahwa komunikasi yang baik di hadapan publik, meskipun dalam jumlah kecil, merupakan skill bisnis yang paling mendasar. Clifford Abramson seorang pelatih percakapan di New York mengungkapkan, “Kunci untuk mengatasi demam panggung adalah dengan melakukan aktivitas fisik sesaat sebelum Anda berbicara di depan umum”.

Clifford menambahkan, Anda bisa melakukan aktivitas olahraga ringan seperti jalan cepat ataupun jogging di tempat. Jika Anda kesulitan mencuri waktu untuk melakukan latihan darurat, cobalah melepaskan rasa nervous Anda dengan mengepalkan tangan atau meremas tumpukan kertas yang tidak terpakai. Cara-cara ini meskipun agak kekanakan tetapi terbukti bisa mengurangi perasaan nervous dan melancarkan aliran darah Anda. Menjelang saat tampil tiba, jangan lupa tersenyum. Ini akan mengurangi ketegangan dan kegelisahan Anda.

Selain cara-cara tadi, para ahli mengatakan hal yang lebih penting untuk bicara di depan publik adalah dengan melakukan persiapan yang sempurna. Persiapkan materi bahasan secara lengkap. Kemudian berlatihlah bicara di hadapan beberapa rekan Anda. “Jangan mengacuhkan latihan sebelum tampil di depan umum,” kata Clifford. Lalu bagaimana jika Anda harus bicara di depan publik dalam waktu yang mendadak? “Siapkan poin-poin penting yang harus dibicarakan, jangan panik, pelajari situasi yang akan Anda hadapi dalam waktu singkat”.

Kemudian, ketika saatnya tiba, hadapilah dengan penuh keyakinan dan rasa percaya diri yang tinggi. Sehingga Andapun siap tampil ‘di atas pentas’. Nah, bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda mengatasi penyakit demam panggung Anda? Kalau belum, coba deh saran dari Clifford tadi. Atau Anda punya cara lain…?


(source : rileks.com)

CITA-CITA

Oleh: Andrias Harefa *

Ketika masih duduk di sekolah dasar, saya pernah bercita-cita menjadi pemilik sebuah bengkel sepeda. Alasannya sederhana, kala itu saya sedang menyukai kegiatan bersepeda. Masalahnya, sepeda saya, dan beberapa teman lainnya, sering rusak. Jadi, kami sering harus memperbaikinya di bengkel dekat rumah saya. Pengalaman itu membuat saya berpikir alangkah bahagianya kalau saya memiliki bengkel sendiri. Dengan demikian saya dapat menyelesaikan semua permasalahan saya sendiri, tidak harus repot menunggu antrian di bengkel yang ramai itu.

Ketika saya duduk di bangku sekolah menengah pertama, cita-cita saya berubah. Saya ingin jadi akuntan. Alasannya juga sederhana, orangtua saya mengatakan bahwa kalau saya menjadi akuntan, maka saya dapat memiliki banyak uang untuk membeli apa saja yang saya inginkan. Ini menarik, karena waktu itu saya selalu gagal memperoleh persetujuan orangtua saya jika minta dibelikan sepeda motor.

Ketika saya hampir menyelesaikan sekolah menengah atas, cita-cita saya berubah lagi. Saya tak mau jadi akuntan, sebab menurut pengetahuan saya saat itu seorang akuntan lebih banyak berkutat dengan angka-angka, sementara saya merasa lebih suka bekerja dalam bidang yang membuat saya banyak berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia. Saya ingin jadi ahli hukum, sebab ahli hukum selalu mendampingi kliennya dalam memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi.

Dalam hal ini cita-cita menjadi ahli hukum, khususnya pengacara di pengadilan, mulai saya kaitkan dengan apa yang saya pahami sebagai potensi, talenta, dan/atau bakat pribadi saya. Kala itu, saya sudah mulai fasih berbicara di muka umum, senang berorganisasi, dan berulangkali dipercaya menjadi pemimpin organisasi remaja, baik di persekolahan maupun di luar sekolah. Itulah yang menuntun saya saat memutuskan untuk mendaftarkan diri ke fakultas hukum. Dan saya diterima menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, dan belakangan dianggap drop out karena tidakpernah menyelesaikan skripsi dan KKN (kuliah-kerja-nyata, bukankorupsi-kolusi-nepotisme). Jadi, tidak satu pun cita-cita dari masa kecil dan masa remaja saya yang menjadi kenyataan. Saya tidak pernah menjadi pemilik bengkel sepeda, tidak pernah menjadi akuntan, dan tidak juga menjadi ahli hukum. Pekerjaan awal yang menafkahi hidup saya adalah penulis independen. Lalu menjadi anggota redaksi inti sebuah majalah yang relatif tidak populer karna hanya beredar di kalangan tertentu. Selanjutnya saya berkesempatan menjadi instruktur Dale Carnegie Training, sebuah lembaga pelatihan internasional yang berpusat di New York, merangkap Training/HRD Consultant yang berkewajiban untuk menjual jasa program konsultansi dan pelatihan ke berbagai perusahaan di Indonesia.

Pada masa-masa “kejayaan” saya sebagai instruktur yang memegang berbagai level lisensi program pelatihan Dale Carnegie Training, sempat terbesitcita-cita untuk menjadi master-trainer, yakni tim penguji yang menentukan apakah seseorang berhak dinyatakan lulus ujian dan memperoleh lisensi dari lembaga tersebut, atau harus mengikuti program pendampingan lanjutan dan ujian kembali di tahun berikutnya, atau bahkan disarankan untuk menekuni bidang profesi lain. Cita-cita ini muncul karena saya berulang kali memperoleh nilai tertinggi saat mengikuti instructor conference untuk lisensi program pelatihan tertentu. Ditambah berbagai pujian dari klien-klien yang pernah saya latih sepanjang tahun 1990-1997, cita-cita menjadi master trainer itu nampaknya cukup berkesesuaian dengan potensi, talenta, dan bakat-bakat terbaik saya.

Lagi-lagi cita-cita itu kandas di tengah jalan. Krisis moneter yang berkunjung ke Indonesia pada paruh kedua tahun 1997, dan kemudian berkembang menjadi krisis multidimensi, membuat saya memikirkan kembali cita-cita hidup pribadi saya. Saya keluar dari Dale Carnegie Training, memperbanyak waktu membaca, merenung, dan menulis buku-buku, ikut mendirikan berbagai lembaga dan komunitas pembelajaran, menjadi knowledge entrepreneur, menerima undangan sebagai pembicara motivasional, dan memainkan peranan sebagai konsultan pembelajaran di beberapa perusahaan skala kecil-menengah.

Jujur saja, sepanjang tahun 1998-1999, saya seperti kehilangan cita-cita. Namun, untunglah hal itu tidak berlangsung untuk seterusnya. Bila hari-hari ini orang bertanya kepada saya apakah cita-cita hidup pribadi saya, maka tanpa keraguan saya akan menjawab: “menjadi manusia yang seotentik mungkin”, atau “menjadi pribadi yang unik dan tak terbandingkan dengan siapapun dan apapun yang bukan saya”, atau “menjadi andrias harefa yang sesungguhnya”. Itulah cita-cita, tujuan, visi dan misi hidup saya sebagai pribadi yang sedang berproses mengaktualisasikan diri lewat berbagai program dan agenda aksi. Untuk itu saya mewajibkan diri saya untuk terus menerus belajar dan berlatih agar mampu menghadapi berbagai kesulitan hidup yang bisa mengaburkan pandangan saya tentang hakikat diri saya, potensi dan bakat-bakat terbaik yang dititipkan Tuhan kepada saya, dan tentang makna kehadiran saya di Indonesia, bahkan di dunia ini.

Apa yang saya pelajari dari seluruh proses pencarian cita-cita hiduppribadi saya sejauh ini?

Pertama, saya belajar bahwa menemukan dan merumuskan sebuah cita-cita memerlukan proses pendewasaan dan pemberdayaan diri. Cita-cita tidak harus dirumuskan sekali untuk selamanya. Cita-cita bisa berubah dan berkembang bersama waktu dan pengalaman hidup. Cita-cita juga bisa hilang tertelan kesulitan hidup dan ketidakmampuan untuk memberi makna terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup sehari-hari. Ada banyak orang yang telah kehilangan cita-cita masa kecilnya, atau mungkin cita-cita masa remajanya. Mereka sekarang hidup nyaris tanpa cita-cita yang jelas, kecuali sekadar mencari nafkah untuk hidup sehari-hari. Kedua, saya belajar bahwa cita-cita seseorang boleh jadi sangat dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia berada dan/atau bekerja. Lingkungan, keluarga, orangtua, sahabat, dan pihak-pihak lainnya, mencoba mendiktekan cita-cita yang “pantas” sesuai dengan arus deras keinginan dan harapan massal atau pandangan mayoritas di lingkungan terkait. Celakanya, cita-cita yang didiktekan oleh lingkungan itu belum tentu cocok dengan potensi, talenta, dan bakat orang selaku pribadi yang unik dan tak terbandingkan. Mereka yang merumuskan cita-citanya berdasarkan pandangan mayoritas semata-mata, akan sangat menderita karena dipaksa untuk menyenangkan orang lain yang acapkali tidak berkesesuaian dengan keunikan poteni pribadinya.

Ketiga, saya belajar bahwa cita-cita yang baik harus muncul dari pengenalan terhadap potensi, talenta, dan bakat-bakat pribadi yang unik dan tak terbandingkan. Ia harus merupakan pernyataan yang muncul “dari dalam” (inside out) dan bukan “dari luar” (outside in). Cita-cita yang baik harus lahir dari kejujuran dalam proses pencarian diri yang tak berkesudahan, sampai tubuh berkalang tanah. Cita-cita yang baik harus membangkitkan motivasi untuk berjuang mengatasi berbagai problema kehidupan yang akan selalu ada, berkembang, dan tak kunjung habis. <!-−nextpage-−>

Keempat, saya belajar bahwa apa yang sesungguhnya pantas disebut sebagai cita-cita tak lain tak bukan adalah keinginan-kehendak-kemauan dan harapan yang selalu tertanam dalam pikiran-hati (mind-heart). Cita-cita bukan sekadar keinginan-kemauan-kehendak saja. Cita-cita juga bukan sekadar harapan semata. Cita-cita bukan cuma hasil pikiran logis (mind), juga bukan pernyataan emosional saja (heart). Cita-cita mencakup semua itu, seluruhnya dan seutuhnya. Dan dalam pengertian ini, apa yang disebut sebagai visi dan misi hidup pribadi tak lain adalah cita-cita itu sendiri.

Kelima, saya belajar bahwa cita-cita bukanlah sasaran hidup karena sasaran hidup dibatasi oleh tenggat waktu tertentu. Menjadi insinyur, akuntan, ahli hukum, pengusaha, politisi, dan sebagainya, bukanlah cita-cita tetapi lebih tepat dikatakan sebagai sasaran hidup (goal in life). Mereka yang ingin menjadi insinyur atau sarjana di bidang apapun, misalnya, hanya perlu bersekolah selama 16-17 tahun. Batasan waktunya relatif jelas. Namun mereka yang bercita-cita “menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara” seperti sering dikatakan oleh anak-anak kecil yang belum terpolusi oleh panas teriknya kehidupan– harus memperjuangkan cita-cita itu seumur hidupnya.

Cita-cita yang sejati hanya mungkin dikatakan tercapai atau tidak sama sekali pada saat seseorang dijemput maut. Sementara apa yang disebut sasaran kehidupan dapat dirumuskan dalam bingkai waktu jangka pendek, jangka menengah, atau jangka panjang. Jadi, kalaupun cita-cita ingin dipersamakan dengan sasaran kehidupan, maka cita-cita adalah sasaran kehidupan tertinggi yang mungkin dicapai seseorang berdasarkan pengenalan terhadap dirinya seutuh dan seluruhnya. Pada titik ini cita-cita memang dekat dengan impian (dream), karena ia merupakan tujuan hidup yang tertinggi (highest purpose of life).

Keenam, saya belajar bahwa sekalipun cita-cita sebaiknya tidak dipersamakan begitu saja dengan sasaran-sasaran kehidupan, namun untuk dapat menemukan –kata “menemukan” ini menegaskan bahwa sesungguhnya setiap orang memiliki di dalam dirinya satu cita-cita yang berkesesuaian dengan potensi, talenta, dan bakat-bakat terbaiknya– cita-citanya itu, seseorang bisa mulai dengan menetapkan sejumlah sasaran kehidupan, mengkaji ulang bila ia telah mencapainya, atau menarik pelajaran dari apa yang tidak berhasil dicapainya. Ketujuh, saya belajar bahwa apa yang sesungguhnya pantas saya jadikan cita-cita hidup pribadi saya haruslah merupakan pencerminan dari semacam innate image (citra dalam diri) atau fitrah diri saya sebagai manusia ciptaan Tuhan yang unik dan tak terbandingkan (kata orang bijak Tuhan terlalu kreatif untuk menciptakan dua manusia

yang sama persis).

Kedelapan, saya belajar bahwa bila orang kehilangan cita-cita, maka ia telah kehilangan arah hidupnya dan sejak saat itu ia tidak akan beranjak ke manapun (not going anywhere). Ia hanya akan berputar di situ-situ saja, seperti orang berjalan di tempat. Ia akan kehilangan gairah hidup, sulit mensyukuri proses kehidupan, suka mengeluh berkepanjangan, dan seterusnya.

Kesembilan, saya belajar bahwa “oknum” penganiaya dan pembunuh cita-cita adalah kesulitan dan problema kehidupan sehari-hari, dan rasa puas diri yang terlalu diri. Dan banyak orang terjebak oleh hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, atau cepat merasa puas diri, sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk merenungi hakikat dirinya itu apa dan siapa, dan tentu saja gagal menemukan cita-cita yang tertanam dalam pikiran-hatinya.

Begitulah. Justru setelah saya dianggap gagal (saya sendiri tidak merasa gagal) meraih sejumlah hal yang dulu saya anggap cita-cita, saya bersyukur bahwa itu semua hanyalah sasaran-sasaran kehidupan yang tak tercapai (menjadi pemilik bengkel sepeda, menjadi akuntan, menjadi ahli hukum, dan menjadi master-trainer). Masih ada banyak sasaran kehidupan yang berhasil saya capai, seperti hidup relatif berkecukupan secara material, punya istri dan anak-anak yang cantik, memiliki pergaulan dengan banyak orang, punya waktu luang untuk belajar, membaca, merenung, dan menulis, dan sebagainya.

Satu hal yang jelas belum tercapai sepenuhnya, yakni saya belum menjadi manusia yang otentik, belum mengaktualisasikan diri saya sepenuhnya bagi kepentingan banyak orang, belum sepenuhnya menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara, belum selesai menjadi andrias harefa. Saya masih berproses, dan saya harap waktu hidup yang tersisa ini dapat saya pergunakan untuk menuntaskan proses pencarian dan pengabdian saya.

Apakah anda memperoleh manfaat dari kesaksian tentang perjuangan saya mencari cita-cita hidup yang sejati? Semoga.

Keuntungan Mengendalikan Emosi

Kerjaan menumpuk, dikejar deadline, ditambah lagi dengan berbagai urusan pribadi, merupakan penyebab emosi anda tak terkendali. Berbagai persoalan tersebut membuat kepala anda seperti dihantam oleh palu godam yang maha berat. Ujung-ujungnya anda mau teriak, marah, menangis, atau bahkan mengamuk.

Tapi tahukah anda? Emosi yang tak terkendali hanya akan merugikan diri sendiri. Selain menyebabkan energi anda terkuras, anda akan dicap tidak kuat mental dan tidak dewasa. Makanya jika anda digelayuti berbagai masalah, jangan hanyut dalam emosi. Lebih baik anda coba tenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam. Dan berpikirlah lebih rileks! Emang nggak mudah sih, tapi kalau pandai mengelola dan mengendalikan emosi, anda akan merasakan manfaatnya loh, apa aja sih..?

Orang-orang yang terlatih mengendalikan emosi umumnya tidak pernah panik dalam menghadapi situasi apapun. Hal ini tentu cukup mempengaruhi kualitas kerja anda. Karena jika anda bekerja dalam keadaan emosi yang tidak stabil membuka peluang besar untuk melakukan kesalahan fatal.

Emosi yang terkendali dengan baik, dapat meningkatkan rasa pede anda. Dengan emosi yang terjaga, anda lebih mudah melakukan tugas apapun dengan lebih baik. Anda yakin apapun yang akan anda hadapi dapat anda selesaikan semaksimal mungkin. Hal ini secara otomatis akan menambah rasa percaya diri anda. Dan tentu saja hal ini sangat diperlukan dalam dunia kerja bukan?

Perlu anda ketahui, emosi yang berlebihan akan menguras nyaris seluruh energi anda, lebih dari kegiatan fisik yang anda lakukan. Karena emosi umumnya membuat pikiran anda meledak-ledak dan tanpa disadari membuat gerakan anda tak terkendali. Nah emosi yang terkendali akan menghemat energi anda. Sehingga anda tidak mudah lelah dan selalu siap dengan aktivitas sehari-hari.

Hal yang sangat menguntungkan, jika anda pandai mengelola dan mengendalikan emosi, anda akan lebih sehat baik fisik maupun mental. Coba aja lihat, orang-orang yang sering dilanda emosi banyak dihinggapi penyakit. Selain penyakit mental seperti stres dan depresi, mereka juga dijangkiti penyakit fisik yang cukup berat seperti hipertensi, alergi, maag, migrain, dll. Nah kalau anda terlatih mengendalikan emosi, stres dan segala macam penyakit ini akan menjauh dari kehidupan anda. Pikiran dan fisik anda pun lebih sehat. Lagipula kesehatan sangat penting kan untuk membangun karir?

Dengan segala keuntungan mengendalikan emosi, dengan sendirinya akan melancarkan segala aktivitas anda. Baik aktivitas pribadi maupun karir. So, mulai sekarang coba deh belajar mengendalikan emosi..!

(source:rileks.com)

Mengalahkan atau Dikalahkan

eramuslim – Mengatasi rasa jenuh mungkin adalah suatu hal yang tidak mudah bagi sebagian orang. Penyebabnya bisa bermacam-macam, salah satunya adalah rutinitas atau pekerjaan yang dirasakan monoton sebab selalu harus dikerjakan setiap hari dalam bentuk yang sama. Bagi sebagian orang, mungkin hal itu tidak menantang, dan kurang membangkitkan gairah kala mengerjakannya. Sehingga mereka memilih untuk mengerjakan sesuatu hal yang lain, yang dirasakan lebih menarik dan lebih menuntut kreatifitas.

Padahal, mengalahkan rasa bosan atau jenuh adalah sebuah kreativitas tersendiri. Setidaknya, setiap orang yang berhasil menaklukkannya telah berhasil mengubah paradigma yang tertanam dalam pikirannya bahwa pekerjaan tersebut membosankan, berganti menjadi sebuah produktifitas baru dengan semangat yang baru pula. Tidak mudah? Tentu saja. Bahkan perlu keterampilan tersendiri, kesabaran, dan yang paling penting adalah: kemauan. Bila kemauan tidak dihadirkan, maka perubahan itu tak kan terjadi.

Mengalahkan rasa bosan mungkin seumpama memukul-ratakan sebuah bongkahan batu yang akan menghabiskan energi. Ia menjadi sebuah momok tersendiri bagi tiap diri. Bisa dihitung berapa orang yang sukses menghancurkan ‘batu kebosanan’ itu. Sebagian besar hanya akan menunggu sampai batu itu hancur dimakan zaman atau dilubangi oleh air yang menetes dari hujan. Cukup jarang mereka yang dapat menjadikan batu tersebut sebagai ‘lawan’ dan dikalahkan. Menjadikan rasa bosan sebagai ‘kawan’ hanya akan membuatnya mendekam lebih lama dalam diri kita.

Sebenarnya, menjalani rutinitas tidak akan menjelma menjadi sebongkah ‘batu kebosanan’ yang akan terus dirasakan menghimpit, apabila kita menjalaninya dengan kesabaran dan juga keikhlasan. Melapangkan hati dan mengusir ‘debu-debu penyakit’ di dalamnya akan membantu diri kita untuk bisa menerima setiap kondisi dengan hati tenang. Masalahnya sekarang, menjadikan hati tetap ikhlas setiap saat dan membuatnya lapang selalu, adalah hal yang tidak mudah. Pula bergantung dari ‘bahan bakar’ yang ada dalam tiap diri kita, yang akan memompa semangat serta bekerja keras mengusir tiap titik debu ketidakikhlasan. Bahan bakar itu bernama keimanan.

Manusia diciptakan dengan segala kelemahan serta kelebihannya. Sifat lalai, lupa, lengah, mungkin adalah sesuatu yang memang menjadi sifat dasar manusia. Sesuatu yang memang sudah ada sebagai sebuah kelemahan, yang harus diatasi supaya sifat-sifat itu tidak terus muncul dan akhirnya mengganggu.

Rasa bosan, yang sering menjadi momok dan penyebab seseorang berkeinginan untuk pindah pekerjaan, bisa disebabkan oleh berbagai macam hal. Di antaranya adalah suasana kerja yang monoton, teman kerja yang sering membuat kesal, gaji yang tak kunjung naik, tidak dipromosikan untuk naik jabatan, merasa kurang mendapat tantangan dalam pekerjaan, dan sebagainya. Demikianlah alasan yang kerap kali diutarakan, diputuskan menjadi penyebab, lalu membuat seseorang tersebut hengkang dari tempat kerjanya. Benarkah alasan-alasan tersebut merupakan hal yang telah terjadi dan merupakan akar masalah? Ataukah hanya sebuah legitimasi yang dicari-cari supaya dapat melarikan diri dari ketidakmampuan untuk menghadapinya? Mungkin hanya Allah dan diri kita sendiri saja yang tahu.

Seringkali kita menyalahkan lingkungan di sekitar atas rasa bosan atau kejenuhan yang, menurut kita, sedang melanda. Mengkambinghitamkan sesuatu di luar diri kita rupanya menjadi pekerjaan mudah yang akan selalu kita lakukan, apabila kita tidak mau untuk melakukan introspeksi diri atau ber-muhasabah. Karena, bisa jadi kondisi stagnan atau rasa jenuh itu datang oleh sebab diri kita yang sering berpikiran negatif terhadap apa yang sedang dilakukan, atau terhadap seseorang yang sedang dihadapi. Sehingga semuanya terasa begitu tidak menyenangkan. Bisa jadi pikiran-pikiran itu muncul dikarenakan diri kita yang tak mampu berinovasi dan berpikir kreatif untuk mengembangkan kemampuan serta tugas-tugas kantor yang sedang dikerjakan. Bisa jadi ketidaknyamanan itu adalah akibat dari diri kita yang selalu merasa kurang sehingga timbul emosi dan gejolak untuk mendramatisasi keadaan. Lalu muncullah sebuah pikiran yang akhirnya dinyatakan sendiri maupun kepada orang lain, “Aku bosan! I’m outta here!”

Benarkah demikian? Diri kita sendirilah yang dapat menjawabnya.

Mungkin saja, bila kita mau meluangkan waktu untuk rehat sejenak di kala aktifitas di kantor sedang dalam stadium tinggi, rehat itu akan membawa kesegaran dan semangat baru. Sehingga pikiran menjadi lebih terbuka terhadap masukan-masukan positif yang membangun dan menyelesaikan permasalahan. Bentuk rehat itu bisa bermacam-macam. Tidak perlu cuti berhari-hari bahkan berhura-hura dengan segala bentuknya, sebab bisa jadi akan menjadi celah kemalasan untuk timbul dan melenakan gerak kita yang sudah cukup lamban. Rehat itu bisa dihadirkan dalam bentuk membuat games atau permainan menarik sepanjang waktu istirahat kantor. Atau mengadakan pelatihan singkat, semacam workshop atau seminar sehari, dengan tujuan untuk membangkitkan motivasi. Atau merencanakan perubahan dalam pola pengerjaan tugas-tugas kantor yang dirasakan monoton tersebut.

Hal-hal di atas tentu saja akan dapat bermanfaat bila diri kita atau siapapun yang merasa bosan memiliki “kemauan” yang kuat untuk mengatasi dan mengalahkan rasa bosan itu. Bila tidak, maka seribu macam permainan dan inovasi apapun akan tetap dirasakan sebagai sebuah kesia-siaan.

Semuanya memang tergantung pada diri kita masing-masing. Hambatan yang menjadi penghalang kesuksesan itu akan selalu ada. Soal apakah ia akan menjadikan kita berpaling dan kemudian pergi meninggalkan pekerjaan, atau kita memilih untuk menghancurkan hambatan itu kemudian bertahan dan memperbaiki segala sesuatunya, adalah pilihan pribadi. Tak mudah memang untuk menjadi seseorang yang survive dalam kondisi sulit. Tetapi mereka yang sedikit itulah yang akan muncul dengan kesuksesan dan kemudian dikenal sebagai seseorang yang berhasil dalam pekerjaannya.

Itu semua adalah pilihan. Sebab perubahan hanya akan terjadi pada mereka yang memiliki kemauan kuat untuk berubah atau mengubah kondisi tak menyenangkan yang mereka rasakan serta menghadapi segala hambatan yang memang akan selalu ada. Kita sendiri yang menentukan, akan mengalahkan atau dikalahkan oleh “rasa bosan”.


(source :eramuslim.com)

Menemukan Minat Diri

Oleh: Ubaydillah, AN

Menyimak perjalanan hidup seorang J.K Rowling yang ditulis oleh Lindsey Fraser (Gramedia Pustaka Utama: 2004) ternyata bukan kita saja yang mengalami nasib dimana pekerjaan yang kita jalankan hari ini masih jauh dari pekerjaan yang kita cita-citakan. Sebelum kini mendapatkan pekerjaan yang diimpikan sejak lama sebagai penulis, ternyata wanita yang karya tulisnya pernah dibilang dapat menggairahkan industri penerbitan lewat buku serial Harry Potter ini, tidak hanya merasa pernah ‘salah’ memilih pekerjaan tetapi juga pernah merasa salah memilih fakultas dan itu tidak hanya satu kali.

Karena saking lamanya tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai impian, sambil menekuni pekerjaan sebagai sekretaris, guru, dan terpaksa mengambil sertifikat tambahan karena tuntutan kerja, hampir saja J.K Rowling memutuskan tidak pernah lagi mengingat pekerjaan idaman itu. “Ketika masuk usia 26 tahun, saat itulah aku malah berpikir aku tak punya peluang sama sekali menjadi penulis”, begitulah yang pernah diakui.

Menyiasati omongan orang lain sekantor yang paling-paling akan mengatakan “sudahlah berhenti dari bermimpi”, semua aktivitas yang berkaitan dengan mimpinya menjadi penulis dilakukan secara diam-diam di tempat yang kira-kira orang lain tidak menaruh curiga atau alasan untuk ngomong macam-macam, apalagi sampai menceritakan orang lain kalau di dalam dirinya ada mimpi menjadi penulis.

Ide untuk menampilkan Harry Potter sendiri diperoleh di dalam perjalanan naik kereta dan itu sebelum akhirnya menjadi buku, sudah kira-kira lima tahun di dalam pikirannya. Ketika buku selesai ditulis dan dikirim ke sebuah agen dan penerbit, keduanya menolak dan baru bisa diterima tahun 1997 lewat agen kedua Christopher Little. “Butuh waktu setahun untuk menemukan penerbit yang bersedia menerbitkannya”.

Meminjam istilah yang digunakan oleh Paulo Coelho, seorang yang pernah menjabat sebagai tokoh spiritual UNESCO sekaligus masuk dalam satu dari 15 pengarang terbesar sepanjang sejarah dalam “The Alchemist”, mungkin inilah yang disebut Legenda Pribadi yang bisa diartikan kira-kira sebuah suara cita-cita / keinginan di dalam diri yang terus bersuara sampai ketika kita menolak mendengarkan pun, suara itu tetap saja bersuara.

Semua orang sebenarnya memiliki suara-suara itu di dalam dirinya tetapi yang berbeda adalah bobot “kedengarannya” di telinga masing-masing orang. Mungkin tidak berbentuk definitif seperti ilmu matematika melainkan sebuah abstraksi yang menunjukkan di mana karta karun kita berada.

Dalam The Alchemis, Paulo Coelho menggambarkan seorang pemuda Andalusia, Spanyol, bernama Santiago yang ditunjukkan oleh mimpinya berkali-kali bahwa kalau dirinya pergi ke Kairo akan menemukan harta karun di bagian tertentu di Piramida sana. Meskipun orangtuanya sudah membuat kavling agar menjadi seorang pastur yang memahami kitab suci, tetapi Santiago tetap nekat pergi karena dipikirnya, menemukan harta karun lebih penting, dan di samping itu, supaya dia tidak menjadi pengembala domba yang seperti pengembala lain di kampungnya.

Apa yang didapat Santiago setelah sampai di Piramida benar-benar membuat dirinya menyesali untuk ke sekian kalinya mengapa dia mempercayai mimpi. Perjalanan dari Spanyol ke Kairo sambil membawa domba dengan berbagai macam peristiwa yang tidak mengenakkan, termasuk berurusan dengan serangan segerombolan penjahat yang mengambil tas dan menendang tubuhnya sampai terkapar di tanah hingga ada satu dari kawanan penjahat itu yang menghampirinya untuk mengeluarkan makian: “ Kalau hanya bicara mimpi, akupun pernah bermimpi menemukan harta karun di sekitar gereja tua di Andalusia tempat di mana para pengembala bermalam. Tetapi aku bukan lelaki bodoh macam kau yang mempercayai mimpi !”

Untunglah sebelumnya Santiago sudah belajar bagaimana membaca petunjuk dari Sang Alkemis (seseorang yang bisa mengubah mimpi menjadi kenyataan). Baliklah Santiago ke Spanyol menuju gereja tua yang diteriakkan penjahat itu yang tak lain adalah tempat dirinya dulu bermalam bersama domba berbantal buku tebal. Ternyata, tepat tidak jauh dari pohon Sangkriti yang dulu biasa dia pakai untuk menjemur jaketnya, di situlah harta karun yang bisa mengubah hidupnya berada.

Nah, pengalaman J.K Rowling dan kearifan Paulo Coelho meskipun sepintas terlalu jauh tetapi sebetulnya adalah kenyataan hidup yang terjadi di tempat yang paling dekat dengan kita di mana orang terkadang perlu pergi jauh untuk menemukan sesuatu yang paling dekat dengan dirinya dan di dalam dirinya. Menirukan pesan Alkemis kepada Santiago: “orang harus pergi supaya bisa kembali”.

Proses Penyelarasan Diri

Tidak ada yang tahu pasti di mana dan ada apa di balik peristiwa yang menimpa karir kita pada hari ini . Tetapi belajar dari sejumlah pengalaman orang yang sudah berhasil keluar dari masalah ini, beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan adalah:

1.Tetap tekun dan menjaga komitmen pada pekerjaan yang dihadapi

Tetap menjalani pekerjaan saat ini sepenuh hati (mindfulness) sambil mengendalikan mimpi profesi idaman agar konsentrasi kita tetap terfokus pada realita saat ini yang harus kita berdayakan dan upayakan sebaik mungkin. Kalau kita serius, produktif dan “cepat belajar”, tidak mustahil kita semakin cepat mengarah ke jalur yang sesuai dengan minat diri dan tujuan hidup.

2. Memilih waktu yang tepat dan konsisten untuk melakukan apa yang diminati

Tetap lah menyisakan sebagian waktu untuk melakukan hal yang dibutuhkan oleh minat atau pun profesi idaman itu dengan setia dan tekun, namun bisa mendatangkan kenikmatan – bukan malah menjadi beban.

3. Menjalin hubungan dengan komunitas

Tetaplah menjalin hubungan dengan orang / komunitas yang memiliki minat yang samat, atau berasal dari kalangan profesi idaman itu. Menjalin hubungan minimalnya akan membuat kita tidak lupa bunyi suara hati atau bisa jadi akan menjadi jalan bagi kita menemukan orang seperti yang ditemukan Santiago, sosok yang akan membimbing kita tentang bagaimana mengubah mimpi menjadi kenyataan.

4.Menjaga fokus, arah dan tujuan hidup

Tetap lah menjaga fokus dan aliran pikiran (focus & flows) bahwa – meskipun terkadang takut atau ragu, cemas dan tidak yakin, tetaplah berfokus pada tujuan kita, minat dan profesi idaman. Pekerjaan yang saat ini ada di tangan adalah sasaran-perantara yang akan mengantarkan kita ke arah yang sebenarnya kita inginkan. Jadi, pekerjaan sekarang tidak kalah pentingnya dengan minat dan tujuan hidup kita. Tanpa pekerjaan yang sekarang berada di tangan, maka kita tidak akan bisa mencapai tujuan hidup kita.

5. Memahami petunjuk hidup

Membaca dan memahami petunjuk di jalan yang diisyaratkan oleh setiap peristiwa di dalam dan di luar diri serta hidup kita, karena hanya dengan intuisi yang sensitif lah kita akan peka dan memahami apa yang harus dilakukan.

Kesimpulan

Apakah dengan membaca petunjuk itu sudah berarti kita memiliki garansi akan mencapai keselarasan hidup, antara karir, pekerjaan dengan minat? Menurut pengalaman Arnold Schwarzenegger, itupun menjadi pilihan kita. “Isi pikiran adalah batasan-batasan yang sebenarnya bagi kita. Sepanjang pikiranmu bisa mem-visualkan fakta yang bisa kamu lakukan, maka kamu benar-banar bisa melakukannya selama kamu meyakininya 100 persen”. Hari depan itu – kata Henry Ward Beecer – hanya memiliki dua pegangan. Kita bisa berpegang pada “keragu-raguan”, dan bisa juga berpegang pada “keyakinan”. Artinya, semua kembali pada kekuatan batin dan pilihan hidup kita. Semoga bermanfaat.

(source : http://www.e-psikologi.com)

Mengatasi Pede yang Datang dan Pergi

Udah jadi rahasia umum kalau rasa percaya diri atau lebih populer disebut ‘pede’ sangat menunjang kesuksesan anda. Karena bagaimana mau maju kalau setiap ingin melakukan sesuatu nggak ‘pede’ duluan. Makanya anda harus memiliki rasa ‘pede’. Bukan itu saja, jika anda merasa udah cukup ‘pede’ anda harus ‘memelihara’ rasa pede itu.

Tapi pada sebagian orang, rasa pede yang dimiliki tidak menetap alias datang dan pergi. Anda yang memiliki kadar pede nggak tetap suatu kali merasa sangat bangga dan nyaman dengan diri sendiri. Tetapi di lain waktu anda merasa nggak pede dengan diri sendiri. Biasanya kalau lagi nggak pede anda jadi takut memutuskan sesuatu karena nggak yakin dengan apa yang akan anda lakukan. Dan kalau lagi pede, melakukan apapun rasanya oke aja.

Emang sih bisa dimaklumi kalau anda nggak pede terus menerus. Ada kalanya rasa percaya diri itu muncul untuk hal-hal tertentu yang anda kuasai. Dan rasa pede itu mendadak lenyap ketika anda dihadapkan pada hal-hal yang tidak anda kuasai.

Sebenarnya rasa pede yang datang dan pergi itu ada sisi positifnya. Paling nggak anda jadi bisa menghargai dan mengakui kelebihan orang lain. Di samping itu anda pun jadi mengetahui sejauh mana kemampuan dan kelebihan anda sekaligus mengetahui sejauhmana kekurangan anda.

Untuk mengatasi pede yang datang dan pergi caranya gampang kok. Yaitu dengan cara meningkatkan kemampuan dan memperbaiki kekurangan yang anda miliki. Anda bisa melakukannya dengan cara menambah wawasan misalnya dengan banyak membaca, mengikuti kursus-kursus, dan banyak bergaul.

Satu lagi yang juga penting, jaga penampilan dan perilaku anda. Berbusanalah yang pantas dan berbicaralah yang sopan. Karena sikap dan penampilan yang oke plus otak yang berisi membuat anda ‘good looking’ dan ‘smart’. Seterusnya, pelihara lah rasa pede anda. Tapi awas jangan kelewat pede ntar malah keliatan ‘over acting’ lagi.

(source : rileks.com)