• jobs in sales , sales jobs
  • Terbaru

  • Pilih Topik

We are Never Too Old to Learn

eramuslim – Seseorang menambahkan id saya dalam friendster-nya. Sejenak saya mengernyitkan kening membaca nama yang tertera di sana. Selintas, rasanya saya familiar dengan nama itu. Dengan sedikit penasaran, saya klik ikon yang terpampang untuk melihat profilnya. Aha, ternyata! Dia adik angkatan dari kampus saya. Membaca cv-nya, saya langsung mengambil kesimpulan: satu lagi well rounded man -sosok serba tahu dan serba bisa- saya temukan. Usia 25 tahun, pernah menduduki jabatan strategis di berbagai organisasi kampus, memiliki prestasi akademik memuaskan, cukup ahli dalam bidang pekerjaannya di kantor, memiliki usaha sendiri, aktif dalam jamaah dakwah, aktif juga di lembaga pengembangan manajemen dan kini kuliah lagi. Dan, telah menikah pula. Menilik hobi dan penilaian terhadap diri sendiri yang ia sebut di sana, saya juga menebak bahwa si adik kelas ini adalah seseorang yang visioner dan idealis. Perfect!

Adik kelas tersebut, menambah lagi jumlah “young well rounded man” di lingkaran hidup saya saat ini. Ya, saat ini saya memiliki cukup banyak kawan baik dengan usia rata-rata 5 tahun atau lebih di bawah saya. Mereka cerdas, memiliki berbagai kemampuan dan pengalaman serta berwawasan luas. Bersama mereka saya ngobrol tentang banyak hal. Berbagi. Saling memberi masukan. Diskusi. Dan mereka nyaris selalu dapat mengimbangi saya. Bahkan saya banyak sekali belajar dari mereka.

Sungguh, saya selalu appreciate terhadap para young well rounded man. Bahkan diam-diam saya iri dengan orang-orang muda yang ahli di bidangnya dan memiliki wawasan -minimal serba sedikit- luas di berbagai jenis keilmuan dan keahlian itu. Kadang saya mengeluh dalam hati, mengeluhkan diri saya sendiri: Lihat! Mereka, para pemuda dan pemudi berusia di bawah dua puluh lima tahun itu telah mengerti jauh lebih banyak darimu! Lihat! Para pemuda itu memiliki wawasan yang jauh lebih luas dibanding kamu! Lihat, mereka memiliki visi dan orientasi hidup matang dalam usia mereka yang masih sangat muda! Mereka sudah mulai merintis bisnis dan karirnya, juga keluarga, sejak usia dini. Sedang kamu? Hai, ke mana saja kamu selama ini? Apa saja yang telah kamu lakukan dalam hidupmu? Bisa apa kamu saat seusia mereka? Apa saja yang kamu mengerti dan telah kamu jalani saat berusia belasan dan dua puluhan? Prinsip apa yang telah kamu pegang dengan kokoh saat usia awal dua puluhan? Saya tersenyum sendiri. Getir!

Tidak! Bukan saya tidak melakukan apa-apa pada penggal-penggal usia itu. Saya melakukan banyak hal, tidak berdiam diri. Mencoba mengukir prestasi hidup. Hanya saja harus saya akui, saya membutuhkan waktu lebih lama untuk ‘sekedar’ mencari identitas diri. Dengan jujur harus saya katakan, saya mengalami banyak pergulatan batin yang lebih panjang dalam menentukan pilihan. Tentu saja, semua berkaitan dengan masa lalu, masa kecil dan gaya pendidikan yang pernah saya jalani. Tidak dapat dinafikan juga adalah faktor eksternal dan takdir. Semuanya bermuara pada satu realitas: Saat para well rounded man angkatan saya sudah mantap dengan visinya, mulai bergerak meretas jalan menuju cita-cita, saya masih berjibaku dengan diri sendiri. Saya masih trial and error. Saya masih sibuk dengan permasalahan-permasalahan emosi yang menguras habis energi! Dan kini, dalam usia menjelang tiga puluh tahun, teman-teman saya sudah banyak yang S-2, mantap dan prospektif dalam karir, menjalani kehidupan rumah tangga yang mapan dengan 2-3 anak.

Sedang saya? Lagi-lagi saya tersenyum getir. Tapi saya tahu, saya tidak sendirian. Ada banyak orang seperti saya: yang jalan hidupnya tidak lurus-lurus saja. Yang cara berpikirnya tidak langsung tepat, namun lebih banyak meraba-raba. Yang upayanya tertatih-tatih dan berulang kali jatuh bangun. Yang proses ‘mengerti’nya tersendat-sendat. Bahkan, lebih banyak lagi yang diam, stagnan dan menjalani hidup apa adanya. Tanpa ambisi, orientasi apalagi visi. Tanpa usaha untuk menjadi lebih tahu dan lebih baik.

Apakah ini semacam apologi untuk berhenti dan menjalani apa adanya? Bukan! Ini hanya sebuah upaya untuk bersikap adil dan seimbang. Bahwa ada saat kita melihat ke atas, pada orang-orang yang lebih (dalam seluruh maknanya). Dan ada saat kita melihat ke bawah kepada orang-orang yang kurang atau setara dengan kita. Sementara itu, upaya untuk menjadi lebih mengerti dan lebih baik harus tetap dijalankan.

Dan saya pun teringat kembali pada seorang sahabat dari penggal masa lalu. Satu kalimat nasihatnya yang masih saya simpan hingga kini. Kalimat yang dia berikan saat saya merasa demikian stuck, nyaris putus asa dengan jalan hidup saya di usia menjelang dua puluh lima tahun waktu itu: We are never too old to learn. Tidak pernah ada kata terlalu tua untuk belajar. We are never too late to start. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai. Kalimat itu menyemangati saya untuk bangkit dan bergerak kembali. Mengambil berbagai macam kursus, memaksakan diri kuliah lagi, terjun dalam berbagai aktifitas publik dan membangun jaringan dalam lingkup yang lebih luas. Bukan hanya lingkungan kantor dan dakwah jamaah, tapi juga keilmuan lain dan komunitas lain. Kalimat yang sedikit banyak telah saya buktikan, bahwa dalam rentang lima tahun ini, telah banyak pencapaian berarti yang saya dapatkan, meski tidak sesuai dengan impian awal.

Ya! Bahwa, hidup kita (saya dan anda yang merasa tertatih dan tersendat) bergerak pelan, atau bahkan pernah mogok dan salah arah, itu adalah realitas yang mesti disadari dan diterima apa adanya. Namun usaha dan proses tidak pernah mengenal kata berhenti. Namun perjalanan untuk menjadi lebih mengerti, lebih paham, lebih baik, tidak pernah mengenal kata terlambat. Namun belajar tidak pernah mengenal kata terlalu tua. Kita hanya perlu menyadari dan menghujamkan dalam hati: bahwa kita, sampai usia berapa pun, tidak boleh berhenti belajar. Kita, sampai kapan pun, tidak boleh merasa puas dan cukup dengan apa yang telah dicapai. Hidup adalah proses, maka ia hanya akan bermakna dalam arti yang sesungguhnya jika dijalankan tahap-tahapnya. Seperti nasihat Prawoto Mangkusasmito, tokoh politik islam masa orde lama, dalam suratnya kepada anaknya.

“Perjuangan adalah suatu garis, suatu proses, bukan suatu titik. Yang ada ialah garis mendaki, garis menurun, garis mendatar. Pencapaian ialah suatu titik, yang segera akan dilalui, akan lenyap atau tumbuh, tergantung amal pemeliharaannya. Perjuangan adalah usaha penyempurnaan dan pemeliharaan yang tak kunjung putus selama hayat di kandung badan.”

Maka sekali lagi: We are never too old to learn!

(source : eramuslim.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: