• jobs in sales , sales jobs
  • Terbaru

  • Pilih Topik

CITA-CITA

Oleh: Andrias Harefa *

Ketika masih duduk di sekolah dasar, saya pernah bercita-cita menjadi pemilik sebuah bengkel sepeda. Alasannya sederhana, kala itu saya sedang menyukai kegiatan bersepeda. Masalahnya, sepeda saya, dan beberapa teman lainnya, sering rusak. Jadi, kami sering harus memperbaikinya di bengkel dekat rumah saya. Pengalaman itu membuat saya berpikir alangkah bahagianya kalau saya memiliki bengkel sendiri. Dengan demikian saya dapat menyelesaikan semua permasalahan saya sendiri, tidak harus repot menunggu antrian di bengkel yang ramai itu.

Ketika saya duduk di bangku sekolah menengah pertama, cita-cita saya berubah. Saya ingin jadi akuntan. Alasannya juga sederhana, orangtua saya mengatakan bahwa kalau saya menjadi akuntan, maka saya dapat memiliki banyak uang untuk membeli apa saja yang saya inginkan. Ini menarik, karena waktu itu saya selalu gagal memperoleh persetujuan orangtua saya jika minta dibelikan sepeda motor.

Ketika saya hampir menyelesaikan sekolah menengah atas, cita-cita saya berubah lagi. Saya tak mau jadi akuntan, sebab menurut pengetahuan saya saat itu seorang akuntan lebih banyak berkutat dengan angka-angka, sementara saya merasa lebih suka bekerja dalam bidang yang membuat saya banyak berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia. Saya ingin jadi ahli hukum, sebab ahli hukum selalu mendampingi kliennya dalam memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi.

Dalam hal ini cita-cita menjadi ahli hukum, khususnya pengacara di pengadilan, mulai saya kaitkan dengan apa yang saya pahami sebagai potensi, talenta, dan/atau bakat pribadi saya. Kala itu, saya sudah mulai fasih berbicara di muka umum, senang berorganisasi, dan berulangkali dipercaya menjadi pemimpin organisasi remaja, baik di persekolahan maupun di luar sekolah. Itulah yang menuntun saya saat memutuskan untuk mendaftarkan diri ke fakultas hukum. Dan saya diterima menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, dan belakangan dianggap drop out karena tidakpernah menyelesaikan skripsi dan KKN (kuliah-kerja-nyata, bukankorupsi-kolusi-nepotisme). Jadi, tidak satu pun cita-cita dari masa kecil dan masa remaja saya yang menjadi kenyataan. Saya tidak pernah menjadi pemilik bengkel sepeda, tidak pernah menjadi akuntan, dan tidak juga menjadi ahli hukum. Pekerjaan awal yang menafkahi hidup saya adalah penulis independen. Lalu menjadi anggota redaksi inti sebuah majalah yang relatif tidak populer karna hanya beredar di kalangan tertentu. Selanjutnya saya berkesempatan menjadi instruktur Dale Carnegie Training, sebuah lembaga pelatihan internasional yang berpusat di New York, merangkap Training/HRD Consultant yang berkewajiban untuk menjual jasa program konsultansi dan pelatihan ke berbagai perusahaan di Indonesia.

Pada masa-masa “kejayaan” saya sebagai instruktur yang memegang berbagai level lisensi program pelatihan Dale Carnegie Training, sempat terbesitcita-cita untuk menjadi master-trainer, yakni tim penguji yang menentukan apakah seseorang berhak dinyatakan lulus ujian dan memperoleh lisensi dari lembaga tersebut, atau harus mengikuti program pendampingan lanjutan dan ujian kembali di tahun berikutnya, atau bahkan disarankan untuk menekuni bidang profesi lain. Cita-cita ini muncul karena saya berulang kali memperoleh nilai tertinggi saat mengikuti instructor conference untuk lisensi program pelatihan tertentu. Ditambah berbagai pujian dari klien-klien yang pernah saya latih sepanjang tahun 1990-1997, cita-cita menjadi master trainer itu nampaknya cukup berkesesuaian dengan potensi, talenta, dan bakat-bakat terbaik saya.

Lagi-lagi cita-cita itu kandas di tengah jalan. Krisis moneter yang berkunjung ke Indonesia pada paruh kedua tahun 1997, dan kemudian berkembang menjadi krisis multidimensi, membuat saya memikirkan kembali cita-cita hidup pribadi saya. Saya keluar dari Dale Carnegie Training, memperbanyak waktu membaca, merenung, dan menulis buku-buku, ikut mendirikan berbagai lembaga dan komunitas pembelajaran, menjadi knowledge entrepreneur, menerima undangan sebagai pembicara motivasional, dan memainkan peranan sebagai konsultan pembelajaran di beberapa perusahaan skala kecil-menengah.

Jujur saja, sepanjang tahun 1998-1999, saya seperti kehilangan cita-cita. Namun, untunglah hal itu tidak berlangsung untuk seterusnya. Bila hari-hari ini orang bertanya kepada saya apakah cita-cita hidup pribadi saya, maka tanpa keraguan saya akan menjawab: “menjadi manusia yang seotentik mungkin”, atau “menjadi pribadi yang unik dan tak terbandingkan dengan siapapun dan apapun yang bukan saya”, atau “menjadi andrias harefa yang sesungguhnya”. Itulah cita-cita, tujuan, visi dan misi hidup saya sebagai pribadi yang sedang berproses mengaktualisasikan diri lewat berbagai program dan agenda aksi. Untuk itu saya mewajibkan diri saya untuk terus menerus belajar dan berlatih agar mampu menghadapi berbagai kesulitan hidup yang bisa mengaburkan pandangan saya tentang hakikat diri saya, potensi dan bakat-bakat terbaik yang dititipkan Tuhan kepada saya, dan tentang makna kehadiran saya di Indonesia, bahkan di dunia ini.

Apa yang saya pelajari dari seluruh proses pencarian cita-cita hiduppribadi saya sejauh ini?

Pertama, saya belajar bahwa menemukan dan merumuskan sebuah cita-cita memerlukan proses pendewasaan dan pemberdayaan diri. Cita-cita tidak harus dirumuskan sekali untuk selamanya. Cita-cita bisa berubah dan berkembang bersama waktu dan pengalaman hidup. Cita-cita juga bisa hilang tertelan kesulitan hidup dan ketidakmampuan untuk memberi makna terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup sehari-hari. Ada banyak orang yang telah kehilangan cita-cita masa kecilnya, atau mungkin cita-cita masa remajanya. Mereka sekarang hidup nyaris tanpa cita-cita yang jelas, kecuali sekadar mencari nafkah untuk hidup sehari-hari. Kedua, saya belajar bahwa cita-cita seseorang boleh jadi sangat dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia berada dan/atau bekerja. Lingkungan, keluarga, orangtua, sahabat, dan pihak-pihak lainnya, mencoba mendiktekan cita-cita yang “pantas” sesuai dengan arus deras keinginan dan harapan massal atau pandangan mayoritas di lingkungan terkait. Celakanya, cita-cita yang didiktekan oleh lingkungan itu belum tentu cocok dengan potensi, talenta, dan bakat orang selaku pribadi yang unik dan tak terbandingkan. Mereka yang merumuskan cita-citanya berdasarkan pandangan mayoritas semata-mata, akan sangat menderita karena dipaksa untuk menyenangkan orang lain yang acapkali tidak berkesesuaian dengan keunikan poteni pribadinya.

Ketiga, saya belajar bahwa cita-cita yang baik harus muncul dari pengenalan terhadap potensi, talenta, dan bakat-bakat pribadi yang unik dan tak terbandingkan. Ia harus merupakan pernyataan yang muncul “dari dalam” (inside out) dan bukan “dari luar” (outside in). Cita-cita yang baik harus lahir dari kejujuran dalam proses pencarian diri yang tak berkesudahan, sampai tubuh berkalang tanah. Cita-cita yang baik harus membangkitkan motivasi untuk berjuang mengatasi berbagai problema kehidupan yang akan selalu ada, berkembang, dan tak kunjung habis. <!-−nextpage-−>

Keempat, saya belajar bahwa apa yang sesungguhnya pantas disebut sebagai cita-cita tak lain tak bukan adalah keinginan-kehendak-kemauan dan harapan yang selalu tertanam dalam pikiran-hati (mind-heart). Cita-cita bukan sekadar keinginan-kemauan-kehendak saja. Cita-cita juga bukan sekadar harapan semata. Cita-cita bukan cuma hasil pikiran logis (mind), juga bukan pernyataan emosional saja (heart). Cita-cita mencakup semua itu, seluruhnya dan seutuhnya. Dan dalam pengertian ini, apa yang disebut sebagai visi dan misi hidup pribadi tak lain adalah cita-cita itu sendiri.

Kelima, saya belajar bahwa cita-cita bukanlah sasaran hidup karena sasaran hidup dibatasi oleh tenggat waktu tertentu. Menjadi insinyur, akuntan, ahli hukum, pengusaha, politisi, dan sebagainya, bukanlah cita-cita tetapi lebih tepat dikatakan sebagai sasaran hidup (goal in life). Mereka yang ingin menjadi insinyur atau sarjana di bidang apapun, misalnya, hanya perlu bersekolah selama 16-17 tahun. Batasan waktunya relatif jelas. Namun mereka yang bercita-cita “menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara” seperti sering dikatakan oleh anak-anak kecil yang belum terpolusi oleh panas teriknya kehidupan– harus memperjuangkan cita-cita itu seumur hidupnya.

Cita-cita yang sejati hanya mungkin dikatakan tercapai atau tidak sama sekali pada saat seseorang dijemput maut. Sementara apa yang disebut sasaran kehidupan dapat dirumuskan dalam bingkai waktu jangka pendek, jangka menengah, atau jangka panjang. Jadi, kalaupun cita-cita ingin dipersamakan dengan sasaran kehidupan, maka cita-cita adalah sasaran kehidupan tertinggi yang mungkin dicapai seseorang berdasarkan pengenalan terhadap dirinya seutuh dan seluruhnya. Pada titik ini cita-cita memang dekat dengan impian (dream), karena ia merupakan tujuan hidup yang tertinggi (highest purpose of life).

Keenam, saya belajar bahwa sekalipun cita-cita sebaiknya tidak dipersamakan begitu saja dengan sasaran-sasaran kehidupan, namun untuk dapat menemukan –kata “menemukan” ini menegaskan bahwa sesungguhnya setiap orang memiliki di dalam dirinya satu cita-cita yang berkesesuaian dengan potensi, talenta, dan bakat-bakat terbaiknya– cita-citanya itu, seseorang bisa mulai dengan menetapkan sejumlah sasaran kehidupan, mengkaji ulang bila ia telah mencapainya, atau menarik pelajaran dari apa yang tidak berhasil dicapainya. Ketujuh, saya belajar bahwa apa yang sesungguhnya pantas saya jadikan cita-cita hidup pribadi saya haruslah merupakan pencerminan dari semacam innate image (citra dalam diri) atau fitrah diri saya sebagai manusia ciptaan Tuhan yang unik dan tak terbandingkan (kata orang bijak Tuhan terlalu kreatif untuk menciptakan dua manusia

yang sama persis).

Kedelapan, saya belajar bahwa bila orang kehilangan cita-cita, maka ia telah kehilangan arah hidupnya dan sejak saat itu ia tidak akan beranjak ke manapun (not going anywhere). Ia hanya akan berputar di situ-situ saja, seperti orang berjalan di tempat. Ia akan kehilangan gairah hidup, sulit mensyukuri proses kehidupan, suka mengeluh berkepanjangan, dan seterusnya.

Kesembilan, saya belajar bahwa “oknum” penganiaya dan pembunuh cita-cita adalah kesulitan dan problema kehidupan sehari-hari, dan rasa puas diri yang terlalu diri. Dan banyak orang terjebak oleh hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, atau cepat merasa puas diri, sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk merenungi hakikat dirinya itu apa dan siapa, dan tentu saja gagal menemukan cita-cita yang tertanam dalam pikiran-hatinya.

Begitulah. Justru setelah saya dianggap gagal (saya sendiri tidak merasa gagal) meraih sejumlah hal yang dulu saya anggap cita-cita, saya bersyukur bahwa itu semua hanyalah sasaran-sasaran kehidupan yang tak tercapai (menjadi pemilik bengkel sepeda, menjadi akuntan, menjadi ahli hukum, dan menjadi master-trainer). Masih ada banyak sasaran kehidupan yang berhasil saya capai, seperti hidup relatif berkecukupan secara material, punya istri dan anak-anak yang cantik, memiliki pergaulan dengan banyak orang, punya waktu luang untuk belajar, membaca, merenung, dan menulis, dan sebagainya.

Satu hal yang jelas belum tercapai sepenuhnya, yakni saya belum menjadi manusia yang otentik, belum mengaktualisasikan diri saya sepenuhnya bagi kepentingan banyak orang, belum sepenuhnya menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara, belum selesai menjadi andrias harefa. Saya masih berproses, dan saya harap waktu hidup yang tersisa ini dapat saya pergunakan untuk menuntaskan proses pencarian dan pengabdian saya.

Apakah anda memperoleh manfaat dari kesaksian tentang perjuangan saya mencari cita-cita hidup yang sejati? Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: