• jobs in sales , sales jobs
  • Terbaru

  • Pilih Topik

Lowongan Kerja di Lippobank

SMART MOVE TO A REWARDING CAREER

Lippobank (LB) is a dynamic multinational Bank owned by Santubong Investments B. V., a company wholly owned by Khazanah Nasional Berhad. LB considers human resource as its most valuable asset, a critical core of the business. Our corporate objectives are to become the Bank of choice of our target segments and to attract, develop and retain the best banking talent. LB is now looking for highly qualified and dynamics candidates for :

Continue reading

Advertisements

Lowongan Kerja Plantation Development Manager


Our Client, Leading Organization in livestock industy urgently seeking for:

PLANTATION DEVELOPMENT MANAGER
( Lampung based)

Qualifications :

Continue reading

Lowongan Kerja di PT. Berca Niaga Medika

JOB OPPORTUNITY

To support rapid business growth, PT. Berca Niaga Medika is currently looking for qualified person to fill the following positions who will base at Surabaya office.

Accounting Staff

Continue reading

Lowongan Kerja di Citrus Punch

Kami merupakan salah satu Perusahaan yang tergabung dalam ASTRA Group. Perusahaan kami bergerak di bidang Casting dan Machining Component/Part Automotive dan Non-automotive, antara lain manufacturing spare parts mobil yang terbuat dari besi tuang seperti : Brake Drum, Pressure Plate, Steering Knuckle, Disc Rotor, Wheel Hub, Exhaust Manifold, dan lain-lain. Perusahaan ini merupakan joint venture antara Aisin Takaoka Japan dan PT. Astra Otoparts Tbk.

Continue reading

Lowongan Kerja Assistant Process Engineer

P.T. ERATEX DJAJA Tbk.

PT. Eratex Djaja Tbk has been in the business of producing and exporting yarn, greige textile for the last 30 years, and in the last 20 years combined their yarn and textile production and exporting activities with that of garment products.

We are looking for:

ASSISTANT PROCESS ENGINEER

Continue reading

Mengalahkan atau Dikalahkan

eramuslim – Mengatasi rasa jenuh mungkin adalah suatu hal yang tidak mudah bagi sebagian orang. Penyebabnya bisa bermacam-macam, salah satunya adalah rutinitas atau pekerjaan yang dirasakan monoton sebab selalu harus dikerjakan setiap hari dalam bentuk yang sama. Bagi sebagian orang, mungkin hal itu tidak menantang, dan kurang membangkitkan gairah kala mengerjakannya. Sehingga mereka memilih untuk mengerjakan sesuatu hal yang lain, yang dirasakan lebih menarik dan lebih menuntut kreatifitas.

Padahal, mengalahkan rasa bosan atau jenuh adalah sebuah kreativitas tersendiri. Setidaknya, setiap orang yang berhasil menaklukkannya telah berhasil mengubah paradigma yang tertanam dalam pikirannya bahwa pekerjaan tersebut membosankan, berganti menjadi sebuah produktifitas baru dengan semangat yang baru pula. Tidak mudah? Tentu saja. Bahkan perlu keterampilan tersendiri, kesabaran, dan yang paling penting adalah: kemauan. Bila kemauan tidak dihadirkan, maka perubahan itu tak kan terjadi.

Mengalahkan rasa bosan mungkin seumpama memukul-ratakan sebuah bongkahan batu yang akan menghabiskan energi. Ia menjadi sebuah momok tersendiri bagi tiap diri. Bisa dihitung berapa orang yang sukses menghancurkan ‘batu kebosanan’ itu. Sebagian besar hanya akan menunggu sampai batu itu hancur dimakan zaman atau dilubangi oleh air yang menetes dari hujan. Cukup jarang mereka yang dapat menjadikan batu tersebut sebagai ‘lawan’ dan dikalahkan. Menjadikan rasa bosan sebagai ‘kawan’ hanya akan membuatnya mendekam lebih lama dalam diri kita.

Sebenarnya, menjalani rutinitas tidak akan menjelma menjadi sebongkah ‘batu kebosanan’ yang akan terus dirasakan menghimpit, apabila kita menjalaninya dengan kesabaran dan juga keikhlasan. Melapangkan hati dan mengusir ‘debu-debu penyakit’ di dalamnya akan membantu diri kita untuk bisa menerima setiap kondisi dengan hati tenang. Masalahnya sekarang, menjadikan hati tetap ikhlas setiap saat dan membuatnya lapang selalu, adalah hal yang tidak mudah. Pula bergantung dari ‘bahan bakar’ yang ada dalam tiap diri kita, yang akan memompa semangat serta bekerja keras mengusir tiap titik debu ketidakikhlasan. Bahan bakar itu bernama keimanan.

Manusia diciptakan dengan segala kelemahan serta kelebihannya. Sifat lalai, lupa, lengah, mungkin adalah sesuatu yang memang menjadi sifat dasar manusia. Sesuatu yang memang sudah ada sebagai sebuah kelemahan, yang harus diatasi supaya sifat-sifat itu tidak terus muncul dan akhirnya mengganggu.

Rasa bosan, yang sering menjadi momok dan penyebab seseorang berkeinginan untuk pindah pekerjaan, bisa disebabkan oleh berbagai macam hal. Di antaranya adalah suasana kerja yang monoton, teman kerja yang sering membuat kesal, gaji yang tak kunjung naik, tidak dipromosikan untuk naik jabatan, merasa kurang mendapat tantangan dalam pekerjaan, dan sebagainya. Demikianlah alasan yang kerap kali diutarakan, diputuskan menjadi penyebab, lalu membuat seseorang tersebut hengkang dari tempat kerjanya. Benarkah alasan-alasan tersebut merupakan hal yang telah terjadi dan merupakan akar masalah? Ataukah hanya sebuah legitimasi yang dicari-cari supaya dapat melarikan diri dari ketidakmampuan untuk menghadapinya? Mungkin hanya Allah dan diri kita sendiri saja yang tahu.

Seringkali kita menyalahkan lingkungan di sekitar atas rasa bosan atau kejenuhan yang, menurut kita, sedang melanda. Mengkambinghitamkan sesuatu di luar diri kita rupanya menjadi pekerjaan mudah yang akan selalu kita lakukan, apabila kita tidak mau untuk melakukan introspeksi diri atau ber-muhasabah. Karena, bisa jadi kondisi stagnan atau rasa jenuh itu datang oleh sebab diri kita yang sering berpikiran negatif terhadap apa yang sedang dilakukan, atau terhadap seseorang yang sedang dihadapi. Sehingga semuanya terasa begitu tidak menyenangkan. Bisa jadi pikiran-pikiran itu muncul dikarenakan diri kita yang tak mampu berinovasi dan berpikir kreatif untuk mengembangkan kemampuan serta tugas-tugas kantor yang sedang dikerjakan. Bisa jadi ketidaknyamanan itu adalah akibat dari diri kita yang selalu merasa kurang sehingga timbul emosi dan gejolak untuk mendramatisasi keadaan. Lalu muncullah sebuah pikiran yang akhirnya dinyatakan sendiri maupun kepada orang lain, “Aku bosan! I’m outta here!”

Benarkah demikian? Diri kita sendirilah yang dapat menjawabnya.

Mungkin saja, bila kita mau meluangkan waktu untuk rehat sejenak di kala aktifitas di kantor sedang dalam stadium tinggi, rehat itu akan membawa kesegaran dan semangat baru. Sehingga pikiran menjadi lebih terbuka terhadap masukan-masukan positif yang membangun dan menyelesaikan permasalahan. Bentuk rehat itu bisa bermacam-macam. Tidak perlu cuti berhari-hari bahkan berhura-hura dengan segala bentuknya, sebab bisa jadi akan menjadi celah kemalasan untuk timbul dan melenakan gerak kita yang sudah cukup lamban. Rehat itu bisa dihadirkan dalam bentuk membuat games atau permainan menarik sepanjang waktu istirahat kantor. Atau mengadakan pelatihan singkat, semacam workshop atau seminar sehari, dengan tujuan untuk membangkitkan motivasi. Atau merencanakan perubahan dalam pola pengerjaan tugas-tugas kantor yang dirasakan monoton tersebut.

Hal-hal di atas tentu saja akan dapat bermanfaat bila diri kita atau siapapun yang merasa bosan memiliki “kemauan” yang kuat untuk mengatasi dan mengalahkan rasa bosan itu. Bila tidak, maka seribu macam permainan dan inovasi apapun akan tetap dirasakan sebagai sebuah kesia-siaan.

Semuanya memang tergantung pada diri kita masing-masing. Hambatan yang menjadi penghalang kesuksesan itu akan selalu ada. Soal apakah ia akan menjadikan kita berpaling dan kemudian pergi meninggalkan pekerjaan, atau kita memilih untuk menghancurkan hambatan itu kemudian bertahan dan memperbaiki segala sesuatunya, adalah pilihan pribadi. Tak mudah memang untuk menjadi seseorang yang survive dalam kondisi sulit. Tetapi mereka yang sedikit itulah yang akan muncul dengan kesuksesan dan kemudian dikenal sebagai seseorang yang berhasil dalam pekerjaannya.

Itu semua adalah pilihan. Sebab perubahan hanya akan terjadi pada mereka yang memiliki kemauan kuat untuk berubah atau mengubah kondisi tak menyenangkan yang mereka rasakan serta menghadapi segala hambatan yang memang akan selalu ada. Kita sendiri yang menentukan, akan mengalahkan atau dikalahkan oleh “rasa bosan”.


(source :eramuslim.com)

Menemukan Minat Diri

Oleh: Ubaydillah, AN

Menyimak perjalanan hidup seorang J.K Rowling yang ditulis oleh Lindsey Fraser (Gramedia Pustaka Utama: 2004) ternyata bukan kita saja yang mengalami nasib dimana pekerjaan yang kita jalankan hari ini masih jauh dari pekerjaan yang kita cita-citakan. Sebelum kini mendapatkan pekerjaan yang diimpikan sejak lama sebagai penulis, ternyata wanita yang karya tulisnya pernah dibilang dapat menggairahkan industri penerbitan lewat buku serial Harry Potter ini, tidak hanya merasa pernah ‘salah’ memilih pekerjaan tetapi juga pernah merasa salah memilih fakultas dan itu tidak hanya satu kali.

Karena saking lamanya tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai impian, sambil menekuni pekerjaan sebagai sekretaris, guru, dan terpaksa mengambil sertifikat tambahan karena tuntutan kerja, hampir saja J.K Rowling memutuskan tidak pernah lagi mengingat pekerjaan idaman itu. “Ketika masuk usia 26 tahun, saat itulah aku malah berpikir aku tak punya peluang sama sekali menjadi penulis”, begitulah yang pernah diakui.

Menyiasati omongan orang lain sekantor yang paling-paling akan mengatakan “sudahlah berhenti dari bermimpi”, semua aktivitas yang berkaitan dengan mimpinya menjadi penulis dilakukan secara diam-diam di tempat yang kira-kira orang lain tidak menaruh curiga atau alasan untuk ngomong macam-macam, apalagi sampai menceritakan orang lain kalau di dalam dirinya ada mimpi menjadi penulis.

Ide untuk menampilkan Harry Potter sendiri diperoleh di dalam perjalanan naik kereta dan itu sebelum akhirnya menjadi buku, sudah kira-kira lima tahun di dalam pikirannya. Ketika buku selesai ditulis dan dikirim ke sebuah agen dan penerbit, keduanya menolak dan baru bisa diterima tahun 1997 lewat agen kedua Christopher Little. “Butuh waktu setahun untuk menemukan penerbit yang bersedia menerbitkannya”.

Meminjam istilah yang digunakan oleh Paulo Coelho, seorang yang pernah menjabat sebagai tokoh spiritual UNESCO sekaligus masuk dalam satu dari 15 pengarang terbesar sepanjang sejarah dalam “The Alchemist”, mungkin inilah yang disebut Legenda Pribadi yang bisa diartikan kira-kira sebuah suara cita-cita / keinginan di dalam diri yang terus bersuara sampai ketika kita menolak mendengarkan pun, suara itu tetap saja bersuara.

Semua orang sebenarnya memiliki suara-suara itu di dalam dirinya tetapi yang berbeda adalah bobot “kedengarannya” di telinga masing-masing orang. Mungkin tidak berbentuk definitif seperti ilmu matematika melainkan sebuah abstraksi yang menunjukkan di mana karta karun kita berada.

Dalam The Alchemis, Paulo Coelho menggambarkan seorang pemuda Andalusia, Spanyol, bernama Santiago yang ditunjukkan oleh mimpinya berkali-kali bahwa kalau dirinya pergi ke Kairo akan menemukan harta karun di bagian tertentu di Piramida sana. Meskipun orangtuanya sudah membuat kavling agar menjadi seorang pastur yang memahami kitab suci, tetapi Santiago tetap nekat pergi karena dipikirnya, menemukan harta karun lebih penting, dan di samping itu, supaya dia tidak menjadi pengembala domba yang seperti pengembala lain di kampungnya.

Apa yang didapat Santiago setelah sampai di Piramida benar-benar membuat dirinya menyesali untuk ke sekian kalinya mengapa dia mempercayai mimpi. Perjalanan dari Spanyol ke Kairo sambil membawa domba dengan berbagai macam peristiwa yang tidak mengenakkan, termasuk berurusan dengan serangan segerombolan penjahat yang mengambil tas dan menendang tubuhnya sampai terkapar di tanah hingga ada satu dari kawanan penjahat itu yang menghampirinya untuk mengeluarkan makian: “ Kalau hanya bicara mimpi, akupun pernah bermimpi menemukan harta karun di sekitar gereja tua di Andalusia tempat di mana para pengembala bermalam. Tetapi aku bukan lelaki bodoh macam kau yang mempercayai mimpi !”

Untunglah sebelumnya Santiago sudah belajar bagaimana membaca petunjuk dari Sang Alkemis (seseorang yang bisa mengubah mimpi menjadi kenyataan). Baliklah Santiago ke Spanyol menuju gereja tua yang diteriakkan penjahat itu yang tak lain adalah tempat dirinya dulu bermalam bersama domba berbantal buku tebal. Ternyata, tepat tidak jauh dari pohon Sangkriti yang dulu biasa dia pakai untuk menjemur jaketnya, di situlah harta karun yang bisa mengubah hidupnya berada.

Nah, pengalaman J.K Rowling dan kearifan Paulo Coelho meskipun sepintas terlalu jauh tetapi sebetulnya adalah kenyataan hidup yang terjadi di tempat yang paling dekat dengan kita di mana orang terkadang perlu pergi jauh untuk menemukan sesuatu yang paling dekat dengan dirinya dan di dalam dirinya. Menirukan pesan Alkemis kepada Santiago: “orang harus pergi supaya bisa kembali”.

Proses Penyelarasan Diri

Tidak ada yang tahu pasti di mana dan ada apa di balik peristiwa yang menimpa karir kita pada hari ini . Tetapi belajar dari sejumlah pengalaman orang yang sudah berhasil keluar dari masalah ini, beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan adalah:

1.Tetap tekun dan menjaga komitmen pada pekerjaan yang dihadapi

Tetap menjalani pekerjaan saat ini sepenuh hati (mindfulness) sambil mengendalikan mimpi profesi idaman agar konsentrasi kita tetap terfokus pada realita saat ini yang harus kita berdayakan dan upayakan sebaik mungkin. Kalau kita serius, produktif dan “cepat belajar”, tidak mustahil kita semakin cepat mengarah ke jalur yang sesuai dengan minat diri dan tujuan hidup.

2. Memilih waktu yang tepat dan konsisten untuk melakukan apa yang diminati

Tetap lah menyisakan sebagian waktu untuk melakukan hal yang dibutuhkan oleh minat atau pun profesi idaman itu dengan setia dan tekun, namun bisa mendatangkan kenikmatan – bukan malah menjadi beban.

3. Menjalin hubungan dengan komunitas

Tetaplah menjalin hubungan dengan orang / komunitas yang memiliki minat yang samat, atau berasal dari kalangan profesi idaman itu. Menjalin hubungan minimalnya akan membuat kita tidak lupa bunyi suara hati atau bisa jadi akan menjadi jalan bagi kita menemukan orang seperti yang ditemukan Santiago, sosok yang akan membimbing kita tentang bagaimana mengubah mimpi menjadi kenyataan.

4.Menjaga fokus, arah dan tujuan hidup

Tetap lah menjaga fokus dan aliran pikiran (focus & flows) bahwa – meskipun terkadang takut atau ragu, cemas dan tidak yakin, tetaplah berfokus pada tujuan kita, minat dan profesi idaman. Pekerjaan yang saat ini ada di tangan adalah sasaran-perantara yang akan mengantarkan kita ke arah yang sebenarnya kita inginkan. Jadi, pekerjaan sekarang tidak kalah pentingnya dengan minat dan tujuan hidup kita. Tanpa pekerjaan yang sekarang berada di tangan, maka kita tidak akan bisa mencapai tujuan hidup kita.

5. Memahami petunjuk hidup

Membaca dan memahami petunjuk di jalan yang diisyaratkan oleh setiap peristiwa di dalam dan di luar diri serta hidup kita, karena hanya dengan intuisi yang sensitif lah kita akan peka dan memahami apa yang harus dilakukan.

Kesimpulan

Apakah dengan membaca petunjuk itu sudah berarti kita memiliki garansi akan mencapai keselarasan hidup, antara karir, pekerjaan dengan minat? Menurut pengalaman Arnold Schwarzenegger, itupun menjadi pilihan kita. “Isi pikiran adalah batasan-batasan yang sebenarnya bagi kita. Sepanjang pikiranmu bisa mem-visualkan fakta yang bisa kamu lakukan, maka kamu benar-banar bisa melakukannya selama kamu meyakininya 100 persen”. Hari depan itu – kata Henry Ward Beecer – hanya memiliki dua pegangan. Kita bisa berpegang pada “keragu-raguan”, dan bisa juga berpegang pada “keyakinan”. Artinya, semua kembali pada kekuatan batin dan pilihan hidup kita. Semoga bermanfaat.

(source : http://www.e-psikologi.com)