• jobs in sales , sales jobs
  • Terbaru

  • Pilih Topik

Mencintai Pekerjaan

Oleh:  Ubaydillah, AN

Konon pada tahun 1998 Wall Street Journal pernah membuka polling untuk menjaring pendapat umum tentang bagaimana orang menerima pekerjaan atau profesi yang saat ini dimiliki. Hasilnya, lebih dari 50 % responden menyatakan akan meninggalkan pekerjaan yang saat ini di tangan apabila (andaikan saja) mereka memiliki kesempatan untuk pindah atau ada peluang untuk ganti pekerjaan / profesi (Warshaw: 1998).

Hasil polling ini meskipun belum tentu mutlak benar atau mungkin belum mewakili pekerja secara keseluruhan, tetapi oleh beberapa pakar pengembangan karir dijadikan petunjuk  untuk bahwa ternyata banyak sekali orang yang tidak mencintai apa yang dilakukan, tidak mencintai profesi atau pekerjaan yang saat ini dimiliki. Bagaimana kalau polling itu diadakan di sini?

Kalau kita menggunakan indikator umum (logika matematis) angkanya bisa jadi bertambah. Mengapa? Di negara yang sudah punya kemampuan lebih bagus dari kita dalam melayani kepentingan publik saja masih ditemukan kenyataan seperti itu, apalagi di kita …? Tetapi logika matematis itu bisa jadi patah di lapangan kalau kita bicara urusan perasaan atau kalau kita menggunakan indikator khusus yang disebut paradoks kemajuan.

Contoh dari paradok itu misalnya saja belum tentu kalau orang yang punya banyak uang itu lebih bahagia dengan orang yang punya uang sedikit, meskipun kalau kita tidak memiliki uang, kebahagian itu juga terancam. Belum tentu juga orang yang hidup di negara maju bisa dipastikan lebih bahagia dengan orang yang hidup di negara berkembang.

Terlepas dari sejumlah kemungkinan itu, namun ada yang masih bisa kita pastikan bahwa baik di Amerika dan di Indonesia, tetap akan ada sekelompok orang yang merasa tidak bahagia atau tidak sanggup mencintai pekerjaan atau profesi yang digeluti saat ini. Padahal baik secara filosofis keduanya dapat dikatakan, bahwa mencintai pekerjaan adalah kekuatan utama untuk meraih prestasi di bidang yang sudah kita pilih saat ini atau nanti.

Hasil wawancara yang dilakukan oleh Doris Lee McCoy, Ph.D penulis buku “Mega Traits for Successful People” (Career Life Institute: 1994) terhadap 1000 orang Amerika yang berprestasi tinggi di bidangnya, ternyata urusan mencintai pekerjaan ini menduduki urutan pertama, yang membedakan antara mereka dengan kebanyakan orang di lingkungannya. Secara keseluruhan, mereka yang berprestasi tinggi itu menikmati apa yang dilakukan (enjoy their work) dengan sepenuh hati (total involvement).   

Meskipun wawancara itu dilaksanakan di Amerika, tetapi karena ini urusan prinsip yang berlaku secara universal, maka hampir bisa dipastikan akan tidak jauh berbeda andaikan saja wawancara itu dilakukan terhadap sejumlah orang Indonesia yang berprestasi. Di samping itu, tanpa wawancara pun sebetulnya naluri kita sudah bisa berbicara bahwa yang namanya cinta pekerjaan, cinta profesi atau ke-sepenuhan-hati itu nampaknya sudah menjadi semacam “kemutlakan”

 Jika semuanya sudah kita ketahui bersama namun pada prakteknya pengetahuan itu masih kurang sakti menolong kita untuk bisa mencintai pekerjaan yang kita tekuni, lantas apa yang menyebabkan? Di sinilah nampaknya kita perlu sedikit membahas tentang bagaimana rasa tidak bahagia dan rasa tidak cinta ini berproses di dalam diri kita.

Logika Telur Ayam

 

Mana yang benar menurut praktek hidup antara kita menyatakan bahwa “kalau saya mendapatkan pekerjaan yang saya cintai maka saya akan mencintai pekerjaan itu”  ATAU  “kalau saya mencintai pekerjaan yang ada saat ini maka cinta itu akan mengantarkan saya untuk mendapatkan pekerjaan yang saya cintai…?” Inilah yang kira-kira saya maksudkan logika telor-ayam di sini.

Pernyataan pertama bisa jadi benar karena untuk orang tertentu dalam keadaan tertentu dengan alasan tertentu dan tujuan tertentu, mendapatkan pekerjaan yang dicintai memang cukup mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mencintai pekerjaan. Tetapi ya itu tadi: hanya berlaku untuk keadaan yang sifatnya sangat terbatas (baca: pengecualian)

<!-−nextpage-−>  

Kalau kita merujuk pada hasil temuan sejumlah pakar yang dikutip dalam catatan ERIC Clearinghouse on Adult Career and Vocational Education (Columbus OH: 2002), akan kita dapatkan bahwa cinta dan tidak cinta pekerjaan (di luar batasan tertentu itu), lebih banyak disebabkan oleh apa yang terjadi di dalam diri (What is happening IN us), bukan tergantung pada apa yang menimpa kita (What is happening ON us), terlepas dari perbedan istilah tehnis yang mereka gunakan.

Studi ilmiah membuktikan, bahwa penyabab utama mengapa kita tidak sanggup mencintai pekerjaan adalah konflik diri. Ini bukan masalah ada gejolak dan tidak ada gejolak, sebab tidak mungkin orang hidup tanpa gejolak. Dari mana konflik-diri ini muncul? Masih merujuk pada hasil temuan yang sama, konflik diri ini dimunculkan oleh mandeknya roda pengembangan diri (developmental process factors). Kalau kita berhenti mengembangkan diri kita, entah itu melalui pekerjaan atau pendidikan, maka cepat atau lambat kita akan diterpa oleh konflik diri,  seiring dengan bertambahnya kebutuhan dan keinginan kita. 

Lantas, mengapa kita mandek? Bicara maunya kita, mungkin tidak ada orang yang menghendaki kemandekan. Pasti semua orang ingin maju, dinamis, proaktif, dan progresif. Jika  dalam prakteknya kemandekan itu terjadi, lantas apa yang menjadi akar penyebabnya? Ajaran agama menunjukkan kita bahwa kemandekan ini disebabkan oleh kesalahan dalam memilih ke mana penglihatan pikiran ini kita fokuskan.

Kalau kita mengarahkan penglihatan ini pada hal-hal yang berbau “kurang” tentang diri kita maka kesimpulan yang tercetak di kepala kita adalah kesimpulan minus tentang kita. Kesimpulan minus ini akan kita jadikan alat untuk melihat sesuatu di luar diri kita termasuk pekerjaan. Penglihatan kita tidak bisa melihat selain apa yang sudah dipahami oleh pikiran kita. Nah, kalau terhadap diri kita saja pikiran ini sudah punya kesimpulan minus, maka apalagi terhadap pekerjaan? Inilah kira-kira kalau diuraikan urut-urutannya secara sekilas.

Alasan lain yang juga mendukung pendapat para pakar itu, adalah logika kita bersama. Katakanlah bahwa hari ini kita sudah mendapatkan pekerjaan yang kita cintai, tetapi kalau roda dinamika di dalam diri kita berhenti, maka cepat atau lambat pekerjaan itu akan hilang keindahannya di mata kita. Sebab, pasti di dalam pekerjaan yang kita cintai pun akan tetap ada bagian yang tidak kita cintai dan ini hanya bisa diharmoniskan oleh usaha pengembangan diri dalam hal kemampuan menyelesaikan masalah yang muncul (problem solving skill).

Alasan lain adalah fakta alamiah. Andaikan dunia ini selalu tunduk pada rencana kita, tentu saja perdebatan telor-ayam di atas  akan gugur. Semua orang sudah pasti menginginkan agar kita didatangi lebih dulu oleh sesuatu yang kita cintai. Hanya saja praktek hidup tak selamanya tunduk pada rencana kita dan seringkali memberikan kita sebuah tawaran memilih yang kira-kira kalau dikalimatkan akan berbunyi: Apa yang akan anda pilih ketika anda tidak mendapatkan secara utuh apa yang anda inginkan?

 

Pembelajaran

 

Will Rogers pernah mengatakan: “walaupun anda saat ini sudah berada di jalur yang benar tetapi kalau yang anda lakukan hanya diam saja, maka perubahan akan membawa anda ke tempat yang tidak aman.”  Pendapat ini bisa kita jadikan petunjuk bahwa terlepas apakah kita sudah mendapatkan pekerjaan yang kita cintai atau tidak, tetapi kalau dinamika kita mandek, perubahan akan membawa kita pada konflik-diri.

Pembelajaran yang mungkin kita lakukan untuk menyelamatkan diri kita dari kemandekan (stagnasi) adalah menyusun Tangga Dinamika yang sesuai dengan ukuran diri kita dengan melakukan gerakan berikut ini: <!-−nextpage-−>

1. Menaikkan Keinginan

Kalau dulu kita pernah punya keinginan untuk menjadi karyawan atau keinginan untuk memiliki sesuatu – katakanlah begitu – dan hari ini keinginan itu sudah kita wujudkan, maka kita perlu menaikkan lagi standar keinginan itu ke tingkat yang lebih atas yang kira-kira secara rasional bisa kita capai, misalnya saja menjadi supervisor atau manajer, supaya kemandekan tidak mudah menguasai kita. Keinginan pada dasarnya adalah motivasi penggerak yang mendorong niat kita untuk berprestasi.

Tetapi yang perlu kita catat, adalah pentingnya kesadaran untuk membuat manajemen aktivitas yang diarahkan untuk mencapai sasaran yang diinginkan, baik jangka pendek (dan rutin) maupun jangka panjang – serta aktivitas yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah.

2.  Menaikkan Pengetahuan

Mungkin kalau sekedar menaikkan keinginan untuk menjadi atau untuk memiliki ini mudah dan sudah dilakukan oleh hampir semua orang. Tetapi yang tidak dilakukan oleh hampir semua orang atau bahkan hanya dilakukan oleh sedikit orang adalah berusaha mencari pengetahuan yang cocok untuk digunakan sebagai alat mewujudkan keinginan itu.

Merujuk pada hasil temuan Aristotle, formula untuk berprestasi itu ada dua yaitu: rumusan tujuan yang jelas tentang apa yang kita inginkan untuk menjadi atau memiliki, dan yang kedua, menemukan metode yang cocok. Metode ini banyak dan salah satunya adalah ilmu pengetahuan yang tepat untuk keadaan diri kita.

Fungsi pengetahuan bagi keinginan kita adalah memberikan lebih banyak pilihan strategi dalam mewujudkan keinginan yang tidak hanya itu-itu saja. Selain itu, fungsi lain yang dimainkan oleh bertambahnya pengetahuan di kepala kita adalah memperbaruhi diri kita. Seperti kata Atkin, Ilmu pengetahuan yang kita dapatkan tidak saja membuat kita memiliki pengetahuan tetapi juga memperbaruhi definisi kita tentang diri kita.

3. Menaikkan  Kemampuan

Sudah pasti akan ada gap (jurang pemisah) antara keinginan ideal dan kemampuan faktual kita dan sudah pasti akan ada gap antara pengetahuan yang baru kita dapatkan dengan kenyataan  yang kita hadapi di bidang kita. Gap ini menawarkan pilihan antara: apakah kita akan menggunakan gap itu untuk mencerahkan diri kita atau kita akan menggunakan gap itu untuk “menggelapkan” diri kita.

Supaya gap itu bisa berfungsi mencerahkan, maka jalan yang tersedia hanya satu yaitu menjalankan agenda pembelajaran secara alamiah (sedikit demi sedikit tetapi terus menerus). Gap antara kemampuan dan keinginan hanya bisa dikuasai dengan cara menaikkan kemampuan. Kalau kemampuan kita tidak bertambah sementara kebutuhan dan keinginan kita terus bertambah, akhirnya konflik diri melanda. Gap antara pengetahuan dan kenyataan hanya bisa didamaikan dengan praktek yang mengikuti metode air hujan yang menetes dari atas ke bawah atau dari konsep ke praktek.

Walhasil, kalau kita coba menghitung dengan kalkulasi dagang, akan berbeda di tingkat keuntungan antara kita mencintai pekerjaan lebih dulu dan menemukan pekerjaan yang kita cintai dulu, meskipun keduanya benar. Mendahulukan cinta akan memberikan keuntungan ganda buat kita, terlepas apakah kita saat ini sudah menemukan pekerjaan yang kita cintai atau belum. Sementara mendahulukan pekerjaan hanya akan memberikan satu keuntungan dan itupun masih dengan syarat: Asalkan kita bisa menemukan pekerjaan yang kita cintai.

Herman Chain akhirnya menyimpulkan: “Kesuksesan bukanlah kunci kebahagian. Kebahagianlah yang menjadi kunci kesuksesan. Jika kamu mencintai apa yang kamu lakukan maka kamu akan sukses.” Puisi cinta mengatakan: “Anda tidak mencintai gadis karena dia cantik  tetapi  si dia menjadi cantik karena anda mencintainya.” Benarkah begitu..?

 (source : http://www.e-psikologi.com)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: