• jobs in sales , sales jobs
  • Terbaru

  • Pilih Topik

Dicari: Karyawan yang Bisa Dicuci Otak!

ENTAH trend atau apa namanya, tapi training-training pengembangan potensi diri, sekarang ini makin banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. Biasanya, perusahaan itu mengutus karyawannya untuk mengikuti sebuah pelatihan.

Kalau memang benar-benar pelatihan, seperti yang sering dilakukan oleh sebuah perusahaan otomotif terkenal, tentu akan berefek positif. Masalahnya, meski sangat halus, ada banyak training yang buntut-buntutnya macam cuci otak. Benarkah?

Dewasa ini, setidaknya sejak tahun 1970-an, terjadi kebangunan pula dalam bentuk gerakan-gerakan mistik modern yang sekalipun tidak secara langsung mengkaitkan diri dengan salah satu aliran atau agama kebatinan, tetapi membawakan falsafah yang sama dengan bentuk Gerakan Zaman Baru dan Humanisme Baru! Gerakan terselubung ini dikenal dalam berbagai-bagai gerakan Pengembangan Pribadi dengan nama seperti New Conciousness Movement, Human Potential Movement, Creative Imagination, Self Motivation, Self Actualization, Self Realization, Self Esteem, Transformation Movement, Mind Power, Positive Thinking, Success Motivation, Personal Development, New Humanism, dan lain-lain.

Pada prinsipnya gerakan-gerakan pengembangan pribadi itu mengajak orang-orang untuk menyadari kemampuannya yang tidak terbatas / terhingga, untuk mencapai kehidupan yang damai, sukacita, cinta, dan kelimpahan di bumi ini, dan bahkan dikatakan bahwa: “pencerahan rohani merupakan kunci sukses perusahaan”! Dengan adanya janji-janji demikian dapat dimaklumi kalau banyak perusahaan melatih karyawan-karyawannya ke arah praktek demikian, dan dunia profesional diisi dengan seminar-seminar yang mempopulerkan falsafah demikian.

Memang gerakan-gerakan pengembangan pribadi tidak secara eksplisit mengacu pada agama-agama kebatinan tertentu, juga tidak menggunakan istilah-istilah agama, pengajarannya juga tidak diberikan di klenteng atau di vihara, bahkan dikembangkan dengan baju ilmu pengetahuan modern seperti Psikologi Modern, tetapi sekalipun demikian, ternyata gerakan-gerakan ini mempunyai pandangan yang prinsipnya sama sekalipun diajarkan oleh badan-badan yang menamakan dirinya universitas, institut, pusat, atau dalam bentuk seminar-seminar motivasi.

Kegiatan-kegiatan gerakan Pengembangan Pribadi juga sudah masuk ke Indonesia, baik melalui buku-buku, seminar-seminar, misalnya dengan topik-topik IBM way, Berpikir Positif, dan bermacam-macam slogan lainnya. Pada dasarnya keyakinan gerakan ini adalah penekanan pada “otonomi, kebaikan, dan potensi manusia”! Dalam bentuknya yang lain kita menjumpai juga seminar-seminar dengan nama Positive Thinking (Norman Vincent Peale), Possibility Thinking (Robert Schuller), dan Positive Confession (Kenneth Hagin). Ketiga penulis terakhir ini adalah “pendeta-pendeta” yang buku-bukunya banyak dibaca oleh lingkungan pengusaha!

Pada dasarnya, Gerakan-Gerakan Pengembangan Pribadi mempercayai adanya kekuatan (power), pikiran (mind) atau potensi alam semesta atau yang disebut sebagai universal power, universal mind, atau universal self, dan manusia memiliki sebagian dari kekuatan itu yang disebut dengan nama, antara lain: human potential, human power, human mind, atau the power of the self. Manusia dianggap mempunyai potensi / kekuatan demikian yang tidak terhingga; sehingga tugas manusia adalah menggali kekuatan / potensi diri itu semaksimal mungkin untuk mencapai kemanusiaan yang penuh.

Norman Vincent Peale dalam mengkhotbahkan Positive Thinking dimulai dengan kenyataan, bahwa ketika pelayanannya yang konvensional sebagai pendeta muda tidak berbuah, ia membuka klinik konseling bersama seorang ahli jiwa bernama Smiley Blinton, yang membawa Peale dalam pengaruh para psikoanalis.

Donald Meyer dalam bukunya “Positive Thinkers” (halaman 260) menyebutkan bahwa tanpa terhindarkan, Peale terpengaruh oleh psikolog William James mengenai Energi Manusia, dan ia mendengungkan temanya yang permanen seperti yang ditulisnya dalam bukunya “The Art of Living”, yaitu bahwa: :Menolong manusia untuk menggali simpanan kekuatan (reservoir of power) dalam diri masing-masing”. Robert Schuller dalam tulisan editorialnya pada majalah “Possibilities” mengemukakan bahwa “The me I see, the me I’ll be.”

Sebuah cerita nyata begini: Seorang perempuan, karyawan salah satu perusahaan swasta nasional, diutus perusahannya untuk ikut training pengembangan potensi diri yang digelar oleh sebuah organisasi. Dalam acara tersebut, ada banyak hal yang menurut perempuan itu, sangat aneh dan seperti tidak ada hubungannya dengan pengembangan potensi. Ada saat mengosongkan jiwa seperti trance. Kemudian, ada acara yang disebut share to love. Anda bisa berpelukan dengan siapa saja tanpa harus merasa risih. Inikah yang disebut pengembangan potensi diri?

Di luar itu, ada gerakan lain yang konon ada hubuangannay dengan NII (Negara Islan Indonesia). Beberapa waktu lalu sempat diberitakan, beberapa orang pembantu ditangkap karena mencuri harta benda majikannya. Setelah diusut, mereka adalah anggota NII yang direkrut dengan iming-iming posisi penting, jika NII beerdiri. Prosesnya sama dengan cuci otak.

Apapaun alasannya, proses “pencucian otak” seperti itu menjadi hal yang patut dipertanyakan. Ketika rileks.com mencoba menghubungi organisasi yang sering disebut-sebut mengadakan pelatihan seperti itu, sampai berita ini diturunkan nama-nama yang disebut untuk dihubungi, belum bisa dikonfirmasi. Tapi di media masa, organisasi ini masih terus mengadakan pelatihan. Nah,  siapa yang perlu ditindak? [joko/berbagai sumber/foto: istimewa]

(soure : rileks.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: